DENGARKAN BERITA DISINI!
MARGA KENCANA - Tahun Baru Imlek merupakan salah satu perayaan penting dalam tradisi masyarakat Tionghoa yang telah menjadi bagian dari sejarah panjang bangsa Indonesia. Seiring perjalanan waktu, Imlek bukan hanya perayaan etnis tertentu, tetapi juga menjadi simbol kebhinekaan dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
Asal Usul dan Perkembangan Imlek
Imlek berasal dari tradisi Tiongkok kuno yang dirayakan berdasarkan kalender lunar (kalender bulan). Kata “Imlek” sendiri berasal dari dialek Hokkian, yang berarti penanggalan bulan. Perayaan ini menandai pergantian tahun dan datangnya musim semi, biasanya jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari.
Di Indonesia, masyarakat Tionghoa telah hadir sejak berabad-abad lalu melalui jalur perdagangan dan perantauan. Tradisi Imlek pun tumbuh dan beradaptasi dengan budaya lokal. Namun dalam sejarahnya, perayaan ini sempat mengalami pembatasan pada masa Orde Baru (1967–1998), di mana ekspresi budaya Tionghoa dibatasi di ruang publik.
Perubahan besar terjadi pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, yang mencabut larangan tersebut pada tahun 2000. Selanjutnya, Presiden Megawati Soekarnoputri menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional mulai tahun 2003. Sejak saat itu, Imlek dirayakan secara terbuka dan menjadi bagian dari kalender nasional Indonesia.
Tahun Baru Imlek dan Shio Kuda Api
Dalam penanggalan Tionghoa, setiap tahun dikaitkan dengan dua unsur penting: 12 shio (simbol hewan) dan 5 elemen (Kayu, Api, Tanah, Logam, Air). Tahun ini dikenal sebagai Tahun Shio Kuda dengan elemen Api, atau sering disebut Kuda Api.
Shio Kuda melambangkan:
- Semangat dan energi tinggi
- Kebebasan dan kemandirian
- Keberanian dalam mengambil langkah baru
Sementara unsur Api melambangkan:
- Gairah dan motivasi
- Transformasi dan perubahan
- Keberanian menghadapi tantangan
Perpaduan Kuda dan Api dimaknai sebagai tahun yang penuh dinamika, semangat pembaruan, serta dorongan untuk bergerak maju dengan optimisme. Nilai-nilai ini dapat dimaknai secara universal oleh seluruh masyarakat sebagai semangat membangun kehidupan yang lebih baik, termasuk dalam membangun desa yang harmonis dan produktif.
Tradisi dan Makna Perayaan
Perayaan Imlek identik dengan berbagai simbol dan tradisi, antara lain:
- Lampion merah sebagai simbol harapan dan keberuntungan
- Barongsai dan tarian naga sebagai ungkapan sukacita
- Angpau (amplop merah) sebagai simbol doa dan berbagi rezeki
- Tradisi berkumpul bersama keluarga sebagai wujud penghormatan kepada orang tua dan leluhur
Di Indonesia, akulturasi budaya melahirkan tradisi khas seperti lontong cap go meh yang memadukan budaya Tionghoa dan Nusantara.
Imlek sebagai Wujud Toleransi dan Kebersamaan
Kini, Imlek tidak lagi dipandang sebagai perayaan eksklusif, melainkan bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia. Perayaan ini menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan. Semangat saling menghormati antarumat beragama dan antarsuku bangsa merupakan fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Bagi masyarakat Tiyuh Marga Kencana, memahami sejarah dan makna Imlek, termasuk filosofi Shio Kuda Api, dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan. Nilai semangat, keberanian, dan optimisme yang terkandung di dalamnya dapat menjadi inspirasi bersama untuk membangun desa yang rukun, damai, dan sejahtera.
Sebagaimana semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, perbedaan bukanlah pemisah, melainkan kekayaan yang menyatukan.